Longsor Sepanjang 120 Meter Terjang Ngarai Sianok, Warga Diminta Waspada
Tebing Ngarai Sianok di Agam longsor sepanjang 120 meter akibat hujan deras. BPBD pastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.
Kronologi Longsor Tebing Ngarai Sianok
Bencana tanah longsor melanda kawasan ikonik Ngarai Sianok di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Sabtu (3/1/2026) malam. Peristiwa yang terjadi di Nagari Sianok VI Suku, Kecamatan IV Koto ini dilaporkan dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Budi Perwira Negara, mengungkapkan bahwa material longsor meruntuhkan tebing dengan skala yang cukup besar. Beruntung, lokasi titik utama longsor berada di area yang tidak padat hunian, meski sempat menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat sekitar.
Dampak Kerusakan dan Skala Material
Berdasarkan hasil pendataan tim di lapangan, material tanah yang runtuh memiliki dimensi yang cukup masif. Kejadian ini berdampak langsung pada sektor pertanian warga yang berada di dasar lembah.
Budi merincikan detail dimensi tebing yang ambrol dalam keterangannya kepada awak media:
- "Longsor terjadi sekitar jam 21.00 WIB malam, panjang tebing yang longsor ada sekitar 120 meter," kata Budi.
Selain panjangnya yang mencapai ratusan meter, lebar longsoran diperkirakan berada di rentang 5 hingga 7 meter dengan kedalaman atau ketinggian tebing mencapai 40 meter. Material tanah tersebut langsung terjun menimbun area persawahan produktif milik masyarakat di bawahnya.
Tidak Ada Korban Jiwa dalam Musibah
Meski menimbulkan kerusakan signifikan pada lahan pertanian, BPBD Agam memberikan konfirmasi positif bahwa tidak ada warga yang terluka atau meninggal dunia dalam peristiwa ini. Fokus pengawasan kini diarahkan pada infrastruktur penunjang yang berada di bibir tebing.
- "Alhamdulillah nihil korban jiwa. Tebing yang longsor itu lokasinya di areal persawahan masyarakat," tambah Budi menegaskan kondisi keamanan di lokasi kejadian.
Selain lahan sawah, terdapat satu bangunan tempat ibadah berupa mushalla yang lokasinya cukup berdekatan dengan tepi tebing yang runtuh. Meskipun saat ini bangunan tersebut belum terdampak secara fisik, posisinya kini dalam pemantauan intensif oleh pihak berwenang karena adanya potensi longsor susulan apabila curah hujan kembali meningkat.
Pemerintah setempat melalui BPBD terus mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas bertani di sekitar lembah Ngarai Sianok, guna mengantisipasi risiko pergerakan tanah lanjutan selama cuaca ekstrem berlangsung.