Satelit Rekam Megatsunami 200 Meter, Getarkan Bumi Selama 9 Hari
Fenomena langka terjadi di Greenland saat megatsunami setinggi 200 meter memicu getaran seismik global selama sembilan hari. Ilmuwan ungkap penyebabnya.
Misteri Sinyal Seismik Global
Dunia sains sempat dikejutkan oleh sebuah fenomena aneh yang terdeteksi oleh sensor gempa di seluruh dunia. Selama sembilan hari berturut-turut, sebuah sinyal seismik misterius bergetar melintasi planet ini. Berbeda dengan gempa bumi biasa yang memiliki pola getaran rumit dan frekuensi tinggi, sinyal ini hanya berupa dengungan monoton dengan satu frekuensi getaran yang konstan.
Fenomena yang awalnya membingungkan para peneliti ini akhirnya terpecahkan. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa sumber getaran tersebut berasal dari megatsunami setinggi 200 meter yang terjadi di Fjord Dickson, Greenland Timur.
Peristiwa ini bermula ketika puncak gunung setinggi 1,2 kilometer runtuh ke dalam fjord sempit. Runtuhan tersebut membawa material batuan dan es dalam jumlah masif, memicu gelombang raksasa yang energinya terperangkap di dalam saluran air yang sempit dan berliku.
Dampak Perubahan Iklim yang Nyata
Para ilmuwan menjelaskan bahwa pemicu utama dari bencana ini adalah penipisan gletser akibat pemanasan global. Gletser yang selama ini menopang dasar gunung semakin mencair, membuat struktur batuan di atasnya menjadi tidak stabil dan akhirnya longsor.
Runtuhan tersebut menghantam air dengan kekuatan dahsyat, menciptakan percikan awal setinggi 200 meter ke udara. Karena topografi fjord yang tertutup, gelombang tersebut tidak dapat menyebar ke lautan lepas, melainkan memantul bolak-balik di antara dinding tebing curam. Gerakan air yang ritmis inilah yang menciptakan fenomena seiche, sebuah gelombang berdiri yang terus bergerak selama lebih dari seminggu.
Stephen Hicks, ahli seismologi dari University College London (UCL) yang terlibat dalam penelitian ini, menggambarkan betapa uniknya kejadian tersebut. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya ilmuwan merekam getaran dari pergeseran air yang berlangsung begitu lama dan menjalar ke seluruh dunia.
Terekam Citra Satelit dan Sensor Militer
Untuk memvalidasi data seismik yang membingungkan tersebut, tim peneliti menggabungkan berbagai sumber data. Mereka menggunakan citra satelit resolusi tinggi, data gelombang infrasonik, hingga foto-foto lapangan yang diambil oleh Angkatan Laut Denmark. Hasilnya mengonfirmasi adanya bekas kerusakan masif di sepanjang dinding Fjord Dickson, yang menunjukkan ketinggian air ekstrem yang pernah terjadi.
Salah satu peneliti utama, Kristian Svennevig dari Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS), menyoroti betapa peristiwa ini menjadi preseden baru dalam pemahaman geologi modern.
"Ketika kami memulai petualangan ilmiah ini, semua orang bingung dan tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan sinyal ini," ujar Svennevig.
Ia menambahkan bahwa yang lebih mengejutkan adalah bagaimana fenomena alam di wilayah terpencil dapat memengaruhi instrumen pendeteksi di sisi lain planet ini. "Hanya berupa dengungan panjang," tambahnya menggambarkan sinyal tersebut.
Para peneliti menekankan bahwa peristiwa di Dickson Fjord ini menjadi peringatan keras mengenai dampak nyata perubahan iklim yang kini mampu memengaruhi stabilitas geologi Bumi dalam skala dan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.